Analisis Saham Unilever (UNVR)

Saat ini kondisi pasar saham di Indonesia, bahkan dunia sedang mengalami tren penurunan. Kita tau pemicunya yaitu penyebaran virus corona yang menyebabkan dampak sosial maupun ekonomi secara global. Dampaknya bagi perusahaan-perusahaan mungkin akan mulai terlihat di laporan keuangan triwulan pertama dan kedua tahun 2020.

Tetapi, bagi Anda yang menginginkan membeli perusahaan besar di harga diskon mungkin ini waktunya mulai akumulasi. Beberapa perusahaan besar kembali di harga beberapa tahun yang lalu. Daftar perusahaan berkapitalisasi besar di Indonesia ada di LQ45.

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas saham unilever. PT Unilever Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di industri barang konsumsi. Jika saya tuliskan produknya satu persatu maka akan memenuhi halaman ini saking banyaknya, jadi Anda bisa lihat produknya di gambar berikut:
produk PT Unilever Indonesia
Salah satu prinsip dalam berinvestasi adalah belilah perusahaan yang produknya digunakan banyak orang. Nah, perusahaan ini produknya selalu digunakan orang apapun kondisinya.

Mudahnya, orang akan selalu mandi meskipun sedang tidak bekerja (baca: menganggur), sabunnya lifebuoy atau lux. Atau jika dalam kondisi sulit sekalipun, jika orang hanya makan nasi dengan kecap. Nah, kecap bango juga dari unilever. Jadi bisa dibilang perusahaan ini menjual barang kebutuhan dasar manusia.

Fundamental Perusahaan

Pendapatan

Selanjutnya kita lihat dalamnya perusahaan. Berdasarkan laporan triwulan ke-4 tahun 2019, Pendapatan perusahaan 42,92 T naik 2,68% dari tahun sebelumnya. Pendapatan Unilever ini setiap tahunnya selama 10 tahun terakhir selalu meningkat.

Laba Bersih

Sedangkan  laba perusahaan sebesar 7,39 T turun hampir 19% dari tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena pada tahun 2018 perusahaan melakukan penjualan hak untuk mendistribusikan produk Spreads yang menggunakan merek dagang global, merek dagang lokal, dan daftar pelanggan di Indonesia, serta aset takberwujud lainnya kepada PT Upfield Consulting Indonesia sebesar 2,66 T yang notabene hanya dilakukan sekali saja. Jika tidak memperhitungkan penjualan tersebut maka laba perusahaan tetap tumbuh.

Berikut ini tabel pendapatan dan laba bersih dari tahun 2008 sampai dengan 2019:

Tahun
Pendapatan
Laba Bersih
2008
15.577.811.000.000 2.407.231.000.000
2009
18.246.872.000.000 3.044.107.000.000
2010
19.690.239.000.000 3.386.970.000.000
2011
23.469.218.000.000 4.163.369.000.000
2012
27.303.248.000.000 4.839.277.000.000
2013
30.757.435.000.000 5.352.625.000.000
2014
34.511.534.000.000 5.738.523.000.000
2015
36.484.030.000.000 5.864.386.000.000
2016
40.053.732.000.000 5.957.507.000.000
2017
41.204.510.000.000 7.004.562.000.000
2018
41.802.073.000.000 9.109.445.000.000
2019
42.922.563.000.000 7.392.837.000.000

Kewajiban

Kewajiban/utang perusahaan ini mencapai 15,37 T dengan aset 20,65 T. Jika dilihat sekilas maka kewajibannya hampir 75% dari aset. Tetapi jika dilihat lebih dalam lagi, utang bank (utang yang menimbulkan bunga) perusahaan ini relatif kecil yaitu Rp2,92 T dibandingkan dengan asetnya yang 20,65 T. Kurang lebih hanya 10% saja. Selebihnya utang usaha dan utang maupun kewajiban lainnya yang tidak menimbulkan bunga.

Anggap saja kita mau mengembangkan usaha dan mendapatkan pinjaman tapi tak perlu memberikan bunga, siapa yang tidak mau. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan ini cukup sehat. Anggap saja laba 7,39 T tahun 2019 digunakan untuk membayar utang bank 2,92 T, maka masih tersisa cukup banyak untuk membagikan deviden.

Harga Wajar Saham

Melihat harga sahamnya diharga Rp7.000,- maka PBV dan PER yang masing-masing 50x dan 35x. Perusahaan ini tidak bisa dibilang murah jika dibandingkan dengan perusahaan lain yang bergerak di bidang sama. Karena memang Unilever tidak bisa dibandingkan dengan Indofood sekalipun karena secara kapitalisasi saja hanya 1/5 bagian.

Dalam 10 tahun terakhir, PBV terendahnya 28,6x sedangkan PER terendahnya 25x. Jadi saya mengambil perkiraan jika PER-nya bisa 25x atau dengan PBV 36x maka saham ini sudah termasuk murah. Mengacu pada laporan keuangan penuh tahun 2019, maka harga rata-rata yang akan saya ambil berkisar dibawah Rp5.000,-. Dengan melihat histori selama 10 tahun terakhir, saya mematok target harga Rp12.000,-. Sedikit lebih tinggi dari harga tahun 2017 (setelah stocksplit) selama 5-7 tahun mendatang.

Deviden

Sebagai seorang investor, selain kapital gain saya juga mengharap deviden dari saham ini. Melihat 5 tahun kebelakang deviden yang dibagikan, rata-rata kenaikan deviden setiap tahunnya adalah 6%.

Anggap saja diharga Rp5.000,- kita masuk dan mendapatkan deviden 4,8% pertahun, maka setelah 7 tahun besaran deviden dari modal kita adalah 6,81%. Lebih besar dibandingkan bunga deposito bank.

Posisi Saya

Saya mulai masuk di saham ini ketika harganya menyentuh Rp5.650,- beberapa waktu lalu sebanyak 1% dari seluruh portofolio investasi saham. Harga ini merupakan harga rendah yang terakhir kali ditemukan pada tahun 2014. Yup, 6 tahun yang lalu. Alokasi saya untuk saham unilever ini yaitu 15% (alokasi maksimal) dari portofolio. Jadi mungkin kedepannya jika harganya tembus dibawah Rp5.000 saya akan mulai masuk lagi sampai alokasi 15% terpenuhi. Tapi jika tidak tembus, mungkin saya akan alokasikan kesaham lainnya.

Tidak ada komentar untuk "Analisis Saham Unilever (UNVR)"

Berlangganan via Email